Connect with us

Komunikasi Sosial

Rekatkan Kerukunan Keluarga Dengan Budaya Sogukan

Diterbitkan

||

H Abdul Rohman Kepala Desa Sumberejo Jemput Tamu Undangan. (sur)
H Abdul Rohman Kepala Desa Sumberejo Jemput Tamu Undangan. (sur)

Memontum Malang – Guna merekatkan kerukunan antar keluarga, H Abdur Rohman Kepala Desa (Kades) Sumberejo Kecamatan Gedangan, Kabupten Malang memeriahkan hari ulang tahun ketiga putrinya dengan budaya sogukan Sabtu (12/10 hingga Minggu (13/10/2019) kemarin.

“Acara ini kami gelar bertepatan dengan hari ulang tahun ketiga putri kami seperti Nur Afida ke-13, Najwa ke-6 dan Nur Farizha untuk yang ke-6, ” terang H Abdur Rohman Senin (14/10/2019) kemarin.

H Abdul Rohman Bupati Malang HM Sanusi. (sur)

H Abdul Rohman Bupati Malang HM Sanusi. (sur)

Dikatakan Rohman, acara ini murni perayaan ulang tahun, tidak bermaksud berfoya-foya, tetapi untuk merekatkan hubungan antar keluarga dan handai taulan yang selama ini tidak saling bertemu.

Tambah Kades yang jabatannya baru masuk dua bulan ini, dari total pendapatan dana yang terkumpul dari hasil hajatan tersebut mencapai nilai Rp 886 juta.

Rincinya, masih kata Abdur Rohman, dari hasil sogukan sebesar Rp 636 juta, sedangkan Rp 250 juta dari hasil guyub rukun semua pihak tanpa terkecuali warga desa.

“Untuk Sogukan itu sistemnya arisan dan itu wajib dikembalikan kepada anggota yang ketempatan nanti.Semua itu demi kerukunan dan terjalinnya rasa persaudaraan, ” tandas Rohman.

Turun hadir dalam acara itu,selain seluruh Kepala Desa Wilayah Kecamatan Gedangan maupun luar wilayah,warga desa, Muspika Gedangan bahkan Bupati Malang HM Sanusi turut membaur dalam acara tradisi yang populer dengan nama buwuhan atau kondangan ini.

H Abdul Rohman Bersama Perangkat Desa. (H.Mansyur Usman/Memontum.Com)

H Abdul Rohman Bersama Perangkat Desa. (H.Mansyur Usman/Memontum.Com)

Disisi lain tentang sogukan, masih kita jumpai didaerah yang kental dengan suku madura khususnya Malang Selatan. Tradis sogugan terkait dengan aktifitas sumbang menyumbang dimana sumbangan ini nilainya dapat melebihi dari hal biasanya. Misalnya kalau biasanya orang menyumbang Rp.25.000 s/d Rp.50.000.- disogukan nilainya diatas Rp500 ribu bahkan hingga puluhan juta.

Dalam tradisi ini ada upacara penyambutan kepada para tamu yang biasanya membawa uang dengan nilai cukup besar.

Sementara, si tuan rumah berada di depan pintu terop, dengan iringan gamelan dan seorang pesinden yang suaranya amat merdu.

Dengan diwakili juru bicara di depan terop,ia berdialog singkat, yang intinya bahwa pihak penyumbang dengan ikhlas tulus memberi sumbangan demi kelestarian hubungan persaudaran/kekeluargaan. Dialog macam tersebut dilanjutkan dengan upacara serah terima sumbangan, sambil menari bersama para pesinden.

Akhirnya, sampailah mereka di penghitungan uang yang telah ditetapkan serta disaksikan oleh para tamu dan undangan yang lain. Uang sumbangan dirangkai pada sebilah bambu dan dijaga secara khusus. Semakin besar sumbangan yang diberikan, semakin tinggi status sosial penyumbang di masyarakatnya. (Sur/oso)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler