Connect with us

Hukum & Kriminal

Pesta Miras, Penjual Nasgor Tusuk Rusuk Pelajar Bantur

Diterbitkan

||

Tersangka usai diamankan petugas Polsek Bantur. (ist/humas Polres Malang)
Tersangka usai diamankan petugas Polsek Bantur. (ist/humas Polres Malang)

Memontum Malang – Rudi Santoso (36) warga Dusun Bekur RT 41/RW 09 Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, masih menginap di rumah tahanan Polsek Bantur. Ia menjadi tersangka penusuk Anak Baru Gede (ABG).

Selasa (26/11/2019) malam, tersangka diringkus Unit Reskrim Polsek Bantur di warung kopi seputaran Desa Sumberejo Gedangan. Ia dibekuk usai menganiaya pelajar di bawah umur berinisial VCA (15) warga Bantur.

Barang bukti pisau. (ist/Humas Polres Malang)

Barang bukti pisau. (ist/Humas Polres Malang)

Berdasar rilis Humas Polres Malang, Sabtu (23/11/2019) pukul 23.30, tersangka dan korban minum minuman keras depan halaman parkir Alfamart Desa Rejosari Bantur.

Di tengah-tengah pesta miras, tersangka tersinggung omongan korban. Cek cok mulut itu sempat dilerai warga Kalipare namun tersangka justru menuju rombong miliknya.

Ia mengambil pisau dari rombongnya dan menyabetkan ke arah korban. Sabetan itu mengenai rusuk korban. Saat korban terjatuh, sabetan kedua mengenai lutut korban.

Pisau sempat dilemparkan mengenai rolling door Alfamart dan kemudian diamankan seorang warga. Usai menyabetkan pisau, tersangka meninggalkan korban yang kondisi terluka.

Warga yang mengetahui kejadian segera menolong korban. Sempat pula korban dibawa menuju perawatan. Bersamaan, kejadian itu dilaporkan ke Mapolsek Bantur.

Terima laporan korban, petugas menyergap tersangka dan menyita barang bukti pisau milik tersangka. “Kami amankan tersangka dan barang bukti. Korbannya masih di bawah umur,” ungkap Kapolsek Bantur, AKP Nuryono kepada Memontum.com.

Atas perbuatannya, tersangka dikenai Pasal 80 Jo Pasal 76 C Undang- Undang RI No. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan anak Jo Pasal 351 KUHP. (sos/tim)

 

Hukum & Kriminal

Mantan Perangkat Desa, Beli Lombok Pakai Uang Palsu di Gedogwetan Turen

Diterbitkan

||

PJS : Tersangka (humas Polres Malang)
PJS : Tersangka (humas Polres Malang)

Memontum Malang – Gempar pasar Gedogwetan Turen, Kabupaten Malang saat seorang pembeli kepergok memakai uang palsu. Siapa sangka, pengedarnya adalah mantan perangkat desa (mantan PJS Kades Girimulyo Gedangan).

Minggu (19/01/2020) siang, pelaku langsung dibawa ke Polsek Turen beserta barang bukti. Bareng diperiksa, tersangka diduga sempat membelanjakannya beberapa kali dan kepergok ketika membeli 1/4 Kg lombok.

 barang bukti (humas Polres Malang)

barang bukti (humas Polres Malang)

Dialah, tersangka Sutinggal (61) mengaku warga Dusun Sumberpucung RT16/ RW05 Desa Girimulyo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Kelakuannya, sempat jadi omongan para netizen di grup media sosial Fesbuk (FB).

Kapolsek Turen, AKP Zainul Arifin SH, melalui Kanitreskrim Polsek Turen, Iptu Soleh Masudi, membenarkan adanya penangkapan dan penyitaan barang bukti uang palsu.

“Benar dia membawa uang palsu. Pengakuannya dia berniat dan mencetaknya sendiri. Dia juga memakainya, ” ungkap Kanitreskrim Polsek Turen, Iptu Soleh Mashudi SH MH, kepada Memontum.com, Minggu sore.

Kata Soleh, Minggu pagi, sekitar 06.45, tersangka Sutinggal kepergok dalam pasar Waringin Gedog Wetan Turen. Waktu itu, tersangka membeli 1/4 Kg cabe rawit dengan lembaran kertas Rp 50 ribu bernomor seri EAR395999.

Saat digeledah petugas, Sutinggal membawa uang pecahan Rp 20 ribu sebanyak 28 lembar, Rp 59 ribu sebanyak 115 lembar, uang Rp 100 ribu sebanyak 16 lembar. Ada uang asli diduga hasil pembelian, yaitu 3 lembar Rp 10 ribu, selembar Rp 2 ribu dan 2 keping logam Rp 500.

Hingga kini, tersangka Sutinggal masih menjalani pemeriksaan dan penyidikan di Polsek Turen. Beberapa saksi juga dimintai keterangan termasuk penjual cabe yang nyaris jadi korban uang palsu. (sos/tim)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Brakk! Joran Roboh, Pemancing Tebing Tewas Terjatuh di Tanjung Celeng Sempu

Diterbitkan

||

EVAKUASI : Jenazah dievakuasi dan langsung dibawa ke rumah duka di Donomulyo. (humas Polres Malang)
EVAKUASI : Jenazah dievakuasi dan langsung dibawa ke rumah duka di Donomulyo. (humas Polres Malang)

Memontum Malang – Naas dialami seorang pemancing saat berada di tebing sekitar Tanjung Celeng Pulau Sempu, Minggu (19/01/2020) dini hari. Misterius, mendadak korban terjatuh.

Musibah menimpa Adi Cahyono alias cas (33) warga Tulungrejo RT 16/05, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Tidak ada yang melihat langsung jatuhnya korban atau penyebab ia terjatuh.

Ia tidak sendirian saat memancing. Korban Adi bersama 6 temannya. Rombongan pemancing ini bertempat spot sekitar Tanjung Celeng atau tepatnya di Patuk Amben. Ketinggian tebing, lebih dari 10 meter.

Informasi didapat Memontum.com dari Satpolairud Sendangbiru, rombongan berangkat Sabtu (18/01/2020) siang. Pukul 14.30 rombongan tiba di Pasar Ikan dan membeli umpan. Kemudian bersama-sama naik perahu milik Pak Mul ke Pulau Sempu.

Rombongan ini diantaranya, Dadang Nyarwito (38), Sapari (30), M Aldiansyah (14), Nanang Eko Prasetyo (40) keempatnya warga Sumbermanjing Kulon Pagak. Kemudian 2 warga Banjarejo Donomulyo yakni Heri Hermansyah (29) dan Lukito (34).

Pukul 14.45 rombongan tiba di Teluk Semut dan dilanjutkan berjalan kaki ke arah selatan menuju spot mancing berjarak sekitar 3 Km dari Teluk Semut. Di lokasi, rombongan terbagi menjadi 2 kelompok kecil.

Pukul 22.00, saksi Heri mendengar suara tenda jatuh ke air. Bareng disorot senter, korban sudah tidak ada ditempatnya dan joran pancing roboh. Ia langsung memberitahu rekan lainnya.

Alhasil rekan-rekan pemancing mencarinya. Baru sekitar pukul 01.00, korban sempat terlihat dalam kondisi terapung. Jaraknya 50 m dari titik spot. Kondisinya sudah tengkurap.

Pukul 05.30, Posal Sendangbiru menerima informasi dari Polair Polres Malang. Pukul 06.00, anggota Posal Sendangbiru dan Ketua SAR Pantai Selatan Rescue beserta 1 anggota langsung melaksanakan pencarian korban.

Pukul 07.45 korban dapat ditemukan di sebelah baratnya teluk Semut Pulau Sempu. Jaraknya sekitar 1 Km dari spot awal atau titik jatuhnya koeban. Pagi itu, tim pencari mengevakusi jenazah korban.

Terkait kejadian Humas Polres Malang, AKP Ainun membenarkan adanya kejadian. Pihaknya menerima laporan dari Satpolair Sendangbiru yang menyebutkan, korban telah dilakukan visum luar di Puskesmas Sitiarjo.

Informasi lain didapat, jenazah langsung dibawa menuju rumah duka. Keluarga menandatangani surat pernyataan tidak melanjutkan penyelidikan dan menilai kejadian itu merupakan musibah atau kecelakaan murni. (sos/tim)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Kejari Kabupaten Malang Tetapkan Kadinkes Tersangka Korupsi Dana Kapitasi

Diterbitkan

||

Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, Abdul Qohar AF (tengah) saat konferensi pers di kantor kejaksaan setempat. (Sur)
Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, Abdul Qohar AF (tengah) saat konferensi pers di kantor kejaksaan setempat. (Sur)

Memontum Malang – Mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Abdurrachman ditetapkan Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang sebagai tersangka korupsi dana kapitasi Puskesmas.

Pria yang akrab disapa Gus Dur sekaligus mantan Direktur RSUD Kanjuruhan ini ditetapkan tersangka bersama Kepala Bagian Keuangan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Yohan Charles L.

Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, Abdul Qohar AF mengatakan bahwa penetapan status tersangka itu baru dilakukan hari ini.

“Kita tetapkan 2 orang tersangka dalam kasus tindak pidana korupsi penggunaan alokasi dana kapitasi Puskesmas, yang seharusnya untuk operasional dan pelayanan, sebagian digunakan untuk kepentingan pribadi,” kata Abdul Qohar dalam konferensi pers di kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, Jalan Sumedang Kepanjen, Senin (13/1/2020) siang.

Ditambahkan Qohar, Abdurrachman memerintahkan kepada Yohan untuk memotong dana kapitasi sebesar 7 persen dari total Rp 8,5 miliar lebih. Pihak Kejaksaan sendiri telah mengendus praktik kotor yang dilakukan Abdurrachman sejak Januari 2019 lalu.

“Kalau berdasarkan bukti yang ada, seluruh uangnya itu diterima Yohan Charles dari 39 Bendahara Puskesmas, ini perintah langsung dari Abdurrachman. Penyidikan kita mulai tanggal 13 Januari 2019. Ini jadi lama karena kita hitung semua kerugian negara. Ada saksi yang diperiksa, diantaranya 39 Kepala Puskesmas, 39 Bendahara Puskesmas, pejabat struktural Dinas Kesehatan, Kasubbag Keuangan Dinas Kesehatan dan Kepala Dinas Kesehatan baik yang saat ini menjabat atau yang saat itu manjabat, BPJS cabang Malang. Selain itu kita minta keterangan saksi ahli,” jelasnya.

Disinggung soal kemungkinan adanya tersangka lain, Qohar menyampaikan bahwa akan dilihat dalam pengembangan perkara tersebut ke depan.

“Kita lihat perkembangan di penyidikan nanti, yang pasti sekarang dua orang,” ungkapnya.
Meskipun sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun Abdurrachman belum ditahan.

“Kan baru hari ini ditetapkan tersangka, penyidik ada alasan subjektif. Tapi berdasarkan Pasal 21 itu sebenarnya memang bisa dilakukan penahanan, karena dikhawatirkan melarikan diri atau mengulangi perbuatannya atau menghilangkan barang bukti. Sampai hari ini penyidik masih berkesimpulan untuk tidak dilakukan penahanan,” pungkasnya. (Sur/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler