Connect with us

Hukum & Kriminal

Oknum Biro Jasa Resahkan Tambakrejo Sumawe, Diduga Palsukan Stempel Tandatangan Kades

Diterbitkan

||

Memontum Malang – Seorang oknum biro jasa yang diketahui bernama Yohanes terhitung sejak beberapa hari ini dianggap meresahkan warga Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kabupaten Malang.

Pasalnya, oknum biro jasa asal Desa Kedung Banteng ini diduga telah melakukan pemalsuan stempel dan tanda tangan Yonatan Saptus Kades Tambakrejo.

Bukti dugaan pemalsuan surat pindah. (Ist)

Bukti dugaan pemalsuan surat pindah. (Ist)

Dugaan pemalsuan tersebut dilakukan Yohanes dalam hal pengurusan surat pindah tempat atas nama Sain Robin (68) warga RT12/RW04 Desa Tambakrejo ke Desa Sutojayan, Kecamatan Pakisaji.

Proses surat pindah tempat tersebut seperti tercatat dalam regester nomor 470/1098/35.07/2004/2019 tanggal 2 Desember 2019, lengkap dengan tanda tangan dan stempel basah Kades Tambakrejo Yonatan Saptus.

Berdasarkan surat keterangan tersebut, tahapan administrasi desa Tambakrejo ia anggap selesai. Untuk proses berikutnya, Yohanes melanjutkan ke kantor Kecamatan Sumbermanjing Wetan.

Namun, sesampainya di ruang pelayanan administrasi kantor Kecamatan Sumawe, ternyata seorang petugas Kecamatan bernama Nanik, menolak surat tersebut.

“Surat itu dikembalikan, setelah Nanik melakukan konfirmasi ke Pemdes Tambakrejo. Sementara yang saya dengar, karena nomor register yang dia sodorkan tertera angka 470/1098. Padahal, sesuai data di Desa Tambakrejo, untuk regester surat pindah baru tercatat antara 40 hingga 50 orang, ” ujar sumber Memontum.com di kantor Kecamatan Sumawe Jumat (6/12/2019) kemarin.

Dari situlah, surat dugaan pemalsuan dokumen itu terungkap. “Untuk sementara belum bisa kami pastikan, apa itu betul-betul pemalsuan dokumen. Itu baru tahu setelah ada warga lapor polisi. Karena bagaimanapun,
polisi juga bakal minta keterangan pihak pemerintah Desa Tambakrejo, ” tambah sumber itu.

Sementara itu, sumber lain di Desa Tambakrejo mengaku resah dengan kejadian ini. “Saya tidak terima, stempel dan tanda tangan Kepala Desa dipalsukan untuk bisnis pribadi Yohanes. Pemalsuan dokumen seperti ini rupanya sudah sering kali dilakukan. Tetapi baru ini terungkap, ” tandas sumber itu.

Tambahnya lagi, dalam pengurusan surat-menyurat, oknum biro jasa yang sudah puluhan tahun menekuni bisnisnya juga patok harga sangat tidak wajar.

“Masalah patok harga, saya tak ngurus, antara mereka sudah saling sepakat. Tetapi mengenai pemalsuan yang sudah terungkap saat ini ya harus diproses sesuai aturan hukum, ” pungkas sumber itu penuh sesal.

Ada juga sumber lain di Desa Tambakrejo menjelaskan, nama Yohanes sebenarnya sudah dikonfirmasi oleh Kades Tambakrejo, Yonatan.

“Jika sampeyan memang punya stempel, tolong kembalikan.Dia bilang hanya di scan.Tetapi sampai hari ini belum ada kabar lanjut, apakah stempel itu sudah dikembalikan atau belum, ” kutip sumber itu. (sur/oso)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Mantan Perangkat Desa, Beli Lombok Pakai Uang Palsu di Gedogwetan Turen

Diterbitkan

||

PJS : Tersangka (humas Polres Malang)
PJS : Tersangka (humas Polres Malang)

Memontum Malang – Gempar pasar Gedogwetan Turen, Kabupaten Malang saat seorang pembeli kepergok memakai uang palsu. Siapa sangka, pengedarnya adalah mantan perangkat desa (mantan PJS Kades Girimulyo Gedangan).

Minggu (19/01/2020) siang, pelaku langsung dibawa ke Polsek Turen beserta barang bukti. Bareng diperiksa, tersangka diduga sempat membelanjakannya beberapa kali dan kepergok ketika membeli 1/4 Kg lombok.

 barang bukti (humas Polres Malang)

barang bukti (humas Polres Malang)

Dialah, tersangka Sutinggal (61) mengaku warga Dusun Sumberpucung RT16/ RW05 Desa Girimulyo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Kelakuannya, sempat jadi omongan para netizen di grup media sosial Fesbuk (FB).

Kapolsek Turen, AKP Zainul Arifin SH, melalui Kanitreskrim Polsek Turen, Iptu Soleh Masudi, membenarkan adanya penangkapan dan penyitaan barang bukti uang palsu.

“Benar dia membawa uang palsu. Pengakuannya dia berniat dan mencetaknya sendiri. Dia juga memakainya, ” ungkap Kanitreskrim Polsek Turen, Iptu Soleh Mashudi SH MH, kepada Memontum.com, Minggu sore.

Kata Soleh, Minggu pagi, sekitar 06.45, tersangka Sutinggal kepergok dalam pasar Waringin Gedog Wetan Turen. Waktu itu, tersangka membeli 1/4 Kg cabe rawit dengan lembaran kertas Rp 50 ribu bernomor seri EAR395999.

Saat digeledah petugas, Sutinggal membawa uang pecahan Rp 20 ribu sebanyak 28 lembar, Rp 59 ribu sebanyak 115 lembar, uang Rp 100 ribu sebanyak 16 lembar. Ada uang asli diduga hasil pembelian, yaitu 3 lembar Rp 10 ribu, selembar Rp 2 ribu dan 2 keping logam Rp 500.

Hingga kini, tersangka Sutinggal masih menjalani pemeriksaan dan penyidikan di Polsek Turen. Beberapa saksi juga dimintai keterangan termasuk penjual cabe yang nyaris jadi korban uang palsu. (sos/tim)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Brakk! Joran Roboh, Pemancing Tebing Tewas Terjatuh di Tanjung Celeng Sempu

Diterbitkan

||

EVAKUASI : Jenazah dievakuasi dan langsung dibawa ke rumah duka di Donomulyo. (humas Polres Malang)
EVAKUASI : Jenazah dievakuasi dan langsung dibawa ke rumah duka di Donomulyo. (humas Polres Malang)

Memontum Malang – Naas dialami seorang pemancing saat berada di tebing sekitar Tanjung Celeng Pulau Sempu, Minggu (19/01/2020) dini hari. Misterius, mendadak korban terjatuh.

Musibah menimpa Adi Cahyono alias cas (33) warga Tulungrejo RT 16/05, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Tidak ada yang melihat langsung jatuhnya korban atau penyebab ia terjatuh.

Ia tidak sendirian saat memancing. Korban Adi bersama 6 temannya. Rombongan pemancing ini bertempat spot sekitar Tanjung Celeng atau tepatnya di Patuk Amben. Ketinggian tebing, lebih dari 10 meter.

Informasi didapat Memontum.com dari Satpolairud Sendangbiru, rombongan berangkat Sabtu (18/01/2020) siang. Pukul 14.30 rombongan tiba di Pasar Ikan dan membeli umpan. Kemudian bersama-sama naik perahu milik Pak Mul ke Pulau Sempu.

Rombongan ini diantaranya, Dadang Nyarwito (38), Sapari (30), M Aldiansyah (14), Nanang Eko Prasetyo (40) keempatnya warga Sumbermanjing Kulon Pagak. Kemudian 2 warga Banjarejo Donomulyo yakni Heri Hermansyah (29) dan Lukito (34).

Pukul 14.45 rombongan tiba di Teluk Semut dan dilanjutkan berjalan kaki ke arah selatan menuju spot mancing berjarak sekitar 3 Km dari Teluk Semut. Di lokasi, rombongan terbagi menjadi 2 kelompok kecil.

Pukul 22.00, saksi Heri mendengar suara tenda jatuh ke air. Bareng disorot senter, korban sudah tidak ada ditempatnya dan joran pancing roboh. Ia langsung memberitahu rekan lainnya.

Alhasil rekan-rekan pemancing mencarinya. Baru sekitar pukul 01.00, korban sempat terlihat dalam kondisi terapung. Jaraknya 50 m dari titik spot. Kondisinya sudah tengkurap.

Pukul 05.30, Posal Sendangbiru menerima informasi dari Polair Polres Malang. Pukul 06.00, anggota Posal Sendangbiru dan Ketua SAR Pantai Selatan Rescue beserta 1 anggota langsung melaksanakan pencarian korban.

Pukul 07.45 korban dapat ditemukan di sebelah baratnya teluk Semut Pulau Sempu. Jaraknya sekitar 1 Km dari spot awal atau titik jatuhnya koeban. Pagi itu, tim pencari mengevakusi jenazah korban.

Terkait kejadian Humas Polres Malang, AKP Ainun membenarkan adanya kejadian. Pihaknya menerima laporan dari Satpolair Sendangbiru yang menyebutkan, korban telah dilakukan visum luar di Puskesmas Sitiarjo.

Informasi lain didapat, jenazah langsung dibawa menuju rumah duka. Keluarga menandatangani surat pernyataan tidak melanjutkan penyelidikan dan menilai kejadian itu merupakan musibah atau kecelakaan murni. (sos/tim)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Kejari Kabupaten Malang Tetapkan Kadinkes Tersangka Korupsi Dana Kapitasi

Diterbitkan

||

Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, Abdul Qohar AF (tengah) saat konferensi pers di kantor kejaksaan setempat. (Sur)
Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, Abdul Qohar AF (tengah) saat konferensi pers di kantor kejaksaan setempat. (Sur)

Memontum Malang – Mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Abdurrachman ditetapkan Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang sebagai tersangka korupsi dana kapitasi Puskesmas.

Pria yang akrab disapa Gus Dur sekaligus mantan Direktur RSUD Kanjuruhan ini ditetapkan tersangka bersama Kepala Bagian Keuangan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Yohan Charles L.

Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, Abdul Qohar AF mengatakan bahwa penetapan status tersangka itu baru dilakukan hari ini.

“Kita tetapkan 2 orang tersangka dalam kasus tindak pidana korupsi penggunaan alokasi dana kapitasi Puskesmas, yang seharusnya untuk operasional dan pelayanan, sebagian digunakan untuk kepentingan pribadi,” kata Abdul Qohar dalam konferensi pers di kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, Jalan Sumedang Kepanjen, Senin (13/1/2020) siang.

Ditambahkan Qohar, Abdurrachman memerintahkan kepada Yohan untuk memotong dana kapitasi sebesar 7 persen dari total Rp 8,5 miliar lebih. Pihak Kejaksaan sendiri telah mengendus praktik kotor yang dilakukan Abdurrachman sejak Januari 2019 lalu.

“Kalau berdasarkan bukti yang ada, seluruh uangnya itu diterima Yohan Charles dari 39 Bendahara Puskesmas, ini perintah langsung dari Abdurrachman. Penyidikan kita mulai tanggal 13 Januari 2019. Ini jadi lama karena kita hitung semua kerugian negara. Ada saksi yang diperiksa, diantaranya 39 Kepala Puskesmas, 39 Bendahara Puskesmas, pejabat struktural Dinas Kesehatan, Kasubbag Keuangan Dinas Kesehatan dan Kepala Dinas Kesehatan baik yang saat ini menjabat atau yang saat itu manjabat, BPJS cabang Malang. Selain itu kita minta keterangan saksi ahli,” jelasnya.

Disinggung soal kemungkinan adanya tersangka lain, Qohar menyampaikan bahwa akan dilihat dalam pengembangan perkara tersebut ke depan.

“Kita lihat perkembangan di penyidikan nanti, yang pasti sekarang dua orang,” ungkapnya.
Meskipun sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun Abdurrachman belum ditahan.

“Kan baru hari ini ditetapkan tersangka, penyidik ada alasan subjektif. Tapi berdasarkan Pasal 21 itu sebenarnya memang bisa dilakukan penahanan, karena dikhawatirkan melarikan diri atau mengulangi perbuatannya atau menghilangkan barang bukti. Sampai hari ini penyidik masih berkesimpulan untuk tidak dilakukan penahanan,” pungkasnya. (Sur/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler