Kabupaten Malang
Pemkab Malang dan TPID Pastikan Ketahanan Pangan Aman dan Surplus Jelang Idul Fitri

Memontum Malang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) kembali melakukan pengendalian inflasi di Kabupaten Malang, Rabu (04/03/2026) tadi. Kali ini, melalui High Level Meeting (HLM), membahas perkembangan harga bahan pokok dan barang penting lain, menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idul Fitri 1447 H, dengan menghadirkan unsur Forkopimda hingga Bank Indonesia Perwakilan Malang, Badan Pusat Statistik (BPS) Malang, Bulog, Pertamina, Hiswana Migas, Kamar Dagang Indonesia Kabupaten Malang, serta perangkat daerah terkait.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Budiar Anwar, mewakili Bupati Malang, menegaskan bahwa secara fundamental kondisi ketahanan pangan daerah berada pada level aman dan surplus. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik Kabupaten Malang, neraca pangan menunjukkan ketersediaan padi sebesar 118.085 ton dengan surplus 48.881 ton, bawang merah 12.274 ton dengan surplus 8.434 ton, cabai rawit 18.883 ton dengan surplus 16.394 ton, daging ayam 10.542 ton surplus 335 ton. Kemudian untuk telur ayam 12.184 ton surplus 3.467 ton, serta daging sapi 2.262 ton surplus 206 ton.
Secara kuantitatif, tambahnya, kapasitas pasokan cukup untuk menopang lonjakan permintaan selama Ramadan dan Idul Fitri. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan pada komoditas hortikultura yang sensitif terhadap cuaca serta protein hewani dengan ketahanan stok relatif tipis.
Dari sisi dinamika harga, Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kabupaten Malang mengalami volatilitas signifikan. Sementara pada Januari 2026, IPH bergerak turun hingga -3,00 (M4), kemudian berbalik tajam menjadi 2,53 pada minggu pertama Februari dan berada di kisaran 1,39–2,32 hingga minggu ketiga.
Pergeseran sebesar 5,53 poin tersebut, mencerminkan tekanan musiman akibat peningkatan permintaan dan faktor curah hujan tinggi yang mengganggu produksi hortikultura. Cabai rawit menjadi kontributor dominan fluktuasi harga sepanjang 2025 hingga awal 2026, diikuti daging ayam ras dan bawang merah.
“Sektor pertanian Kabupaten Malang memiliki fondasi kuat dengan luas lahan padi sekitar 40 ribu hektare dan harga gabah kering panen Rp 6.500 – Rp 7.000 perkg, ini termasuk tertinggi di Jawa Timur. Begitupun produktivitas panen perdana varietas Sukma yang mencapai 12 ton per hektare. Di sektor hortikultura, luas tanam mencapai 40 ribu hektare dengan komoditas unggulan bawang merah varietas Batu Ijo, jeruk dan melon,” ujar Sekda Budiar.
Pola intervensi juga terus dilaksanakan melalui Gerakan Pangan Murah, Pasar Lebaran Maret 2026. Ke depan langkah tersebut juga akan didukung dengan pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi bersama ID Food, serta optimalisasi sistem pemantauan harga Siharkepo di 21 pasar.
Di sisi lain, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang, Dedy Prasetyo, melaporkan inflasi Februari 2026 sebesar 0,75 persen (month-to-month) atau 4,81 persen (year on year), didorong kelompok makanan, minuman dan tembakau serta perawatan pribadi. Komoditas utama penyumbang inflasi adalah cabai rawit, emas perhiasan dan daging ayam ras. Sementara bensin dan beberapa sayuran mengalami deflasi.
“Curah hujan menengah hingga tinggi pada Maret 2026 berpotensi menekan produksi hortikultura dan meningkatkan risiko inflasi pangan menjelang Idul Fitri. Dalam analisis historis HBKN 2022–2025, cabai rawit konsisten menjadi penyumbang inflasi tertinggi,” paparnya.
Baca juga :
Selanjutnya, Bank Indonesia merekomendasikan penguatan ketahanan pasokan melalui perluasan kerja sama antar daerah (KAD), operasi pasar untuk menjaga keterjangkauan harga, serta peningkatan kualitas neraca pangan daerah guna menjaga ekspektasi inflasi tetap terjangkau. “Dari sisi digitalisasi, indeks TP2DD Kabupaten Malang semester II tercatat 96 persen, masih perlu ditingkatkan dibanding daerah lain,” ujar Dedy.
Sebaliknya, Pertumbuhan QRIS menunjukkan tren positif sebagai akselerator transaksi ekonomi. Pada 2025, Kabupaten Malang mencatat pertumbuhan ekonomi 5,9 persen, peringkat ketiga se-Jawa Timur.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik Malang, Erny Fatma Setyoharini, menyampaikan bahwa pola musiman Ramadan selalu mendorong kenaikan harga pangan strategis, terutama kelompok cabai yang paling volatil. “Optimalisasi intervensi pasar dan pemantauan harian komoditas volatile food menjadi krusial untuk mempercepat respons stabilisasi,” jelasnya.
Selanjutnya, BPS juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas IPH sebagai instrumen early warning system serta penguatan literasi belanja bijak guna meredam pembelian berlebihan. Di sisi lain, data Dinas Ketahanan Pangan menunjukkan proyeksi kebutuhan meningkat 8–10 persen pada puncak Lebaran, dengan jumlah penduduk 2,77 juta jiwa.
Konsumsi beras tercatat 67,41 kg perkapita pertahun atau sekitar 187 ribu ton per tahun. Meski surplus pada padi, jagung, cabai, bawang merah dan gula relatif besar (ketahanan stok 2,5–19 bulan), komoditas daging ayam (0,08 bulan), daging sapi (0,27 bulan) dan minyak goreng (0,15 bulan) memerlukan pengawasan ketat dari sisi distribusi.
Dari aspek distribusi dan stabilisasi, Perum Bulog Sub Divre Malang mengelola 31 gudang berkapasitas total 93.980 ton. Stok beras di Gudang Kebonagung tercatat sekitar 18 ribu ton. Realisasi pengadaan beras setara beras hingga awal Maret mencapai 23.883 ton atau 31 persen target tahunan.
Program SPHP terealisasi 15.983 ton (64 persen target), sementara distribusi Minyakita mencapai 120.451 liter. Harga eceran tertinggi (HET) beras di tingkat grosir dijaga pada kisaran Rp 11 ribu – Rp 11.600 perkg untuk menjaga keseimbangan produsen dan konsumen.
Satgas Pangan Polres Malang memastikan tidak terdapat temuan penimbunan (0 kasus) hingga awal Maret, dengan respons pengaduan kurang dari 24 jam. Harga beras medium Rp 13.000/kg, premium Rp 14.500 perkg, Minyakita Rp 15.700 perliter, daging ayam ras Rp 35 ribu perkg, telur Rp 29 ribu perkg, dan cabai rawit merah Rp 80 ribu perkg. Cabai rawit menjadi komoditas paling rentan akibat supply shock cuaca.
Secara keseluruhan, TPID Kabupaten Malang menyimpulkan bahwa kondisi menjelang Ramadan dan Idul Fitri 1447 H berada dalam situasi relatif terkendali dengan pasokan aman dan instrumen stabilisasi aktif. Namun demikian, kewaspadaan terhadap volatilitas hortikultura, kelancaran distribusi, serta pengendalian ekspektasi inflasi tetap menjadi prioritas. Sinergi TPID dan TP2DD, penguatan produksi lokal, serta koordinasi lintas sektor menjadi fondasi menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat Kabupaten Malang secara berkelanjutan. (pro/gie)

Kabupaten Malang4 mingguPerketat Akses Bendungan Lahor, PJT I Siapkan Mitigasi Risiko Jangka Panjang
Kabupaten Malang3 mingguWabup Malang Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Penanganan Gangguan Tumbuh Kembang Anak dan Disabilitas
Kabupaten Malang3 mingguPenguatan Integritas dan Kepercayaan Publik ke Sekolah, Dispendik on The Road Digelar di Ngantang
Kabupaten Malang2 mingguBupati Malang Panen Melon Berkualitas Ekspor dan Dorong Masyarakat Tingkatkan Swasembada Pangan
Kabupaten Malang3 mingguDPRD Kabupaten Malang Tekankan Pentingnya Peran Posyandu untuk Kesehatan Masyarakat
Kabupaten Malang2 mingguDPRD Kabupaten Malang Dorong Penguatan Ekonomi Masyarakat Via Koperasi Desa Merah Putih
Kabupaten Malang3 mingguBupati Malang Lakukan Peletakan Batu Pertama Pembangunan SPPG Turen
Kabupaten Malang2 mingguLihat Langsung Pelayanan Kesehatan, Bupati Malang Kunjungi Puskesmas Ngajum dan Kromengan


















